Top Ad 728x90

Selasa, 22 Mei 2018

DULU PASAR REBO SEKARANG PASAR CITAYAM? KOK BISA YA???

by
Perumahan Citayam dan Rumah Citayam jika untuk memenuhi kebutuhan pangan, mereka tertuju ke pasar citayam, juga warga yang tinggal di citayam Bogor, pastinya sudah tahu pasar citayam sangat terkenal karena harganya terjangkau, selain itu pasar citayam konon menurut cerita dari beberapa informasi warga, pasar citayam adalah pasar yang paling lama di citayam bahkan jika pada hari besar nasional pasar citayam ramai di kunjungi dari berbagai kampung yang menuju ke pasar citayam.
Bagi warga yang usianya 60th dan asli pribumi citayam, jika kita tanyakan tentang pasar citayam, mereka tidak kenal betul dengan nama pasar citayam, dulu mereka hanya kenal Pasar Rebo Citayam. lalu setelah saya coba bertanya-tanya dari berbagai warga yang sudah usai 60th, ternyata betul dulu bahwa pasar citayam adalah pasar Rebo citayam, dan saya semakin penasaran kenapa bisa berubah nama dari pasar rebo citayam menjadi pasar citayam.
Ternyata pasar Citayam memang betul , menurut warga yang sudah usia 60th dan warga pribumi asli, pasar rebo citayam tidak buka setiap hari, pasar tersebut berdiri atau pasar rebo hanya buka pada hari rabu dan sabtu , dan menurut warga kebanyak warga dari bojonggede pun belanja di pasar citayam,selain itu saya dapat Informasi bahwa pada tempo dulu Pedagang yang terkenal saat itu adalah Tuan Cunglim, seorang pedagang yang terkenal di pasar rabu dan sabtu.
Perubahan apapun tercatat dalam kutipan kecil yang menghasilkan Besarnya sejarahyang menjadikan muatan dari nilai denyut nadi kota

JEMBATAN KUNING Jembatan Citayam Berusia 200 Tahun lebih

by
Sebuah jembatan berwarna kuning di Kampung Cikambangan, Kebun Duren, Kalimulya, Depok, Jawa Barat itu masih terlihat kokoh. Konstruksi jembatan yang terbuat dari besi itu tak lapuk dimakan usia meski sudah 200 tahun berdiri.Pengendara motor lalu lalang di atas jembatan sepanjang 26 meter yang menghubungkan Kalimulya dengan Citayam itu. Jembatan yang berdiri di atas Sungai Ciliwung ini memang menjadi jalur utama bagi warga yang melintas dari Kalimulya ke Citayam, Depok.keberadaan jembatan kuning memiliki peran vital dalam lalu lintas warga sekitar.
jembatan kuning dibangun di masa penjajahan Belanda. Bahan untuk membangun jembatan ini terbuat dari baja asli yang didatangkan dari Belanda. Usianya, menurut pria yang hanya diperkirakan sudah mencapai 200 tahun. berikut ini gambar jembatan kuning



Misteri Ratu Jaya, Pendekar Sakti di Tanah Citayam

by

Cipayung – Ratu Kiranawati, nama yang tentunya masih terdengar cukup asing bagi sebagian besar warga Depok. Namun bagi warga Citayam, khususnya sekitaran Kelurahan Ratu Jaya, nama itu tidaklah asing. Terlebih bagi Suyono, pria sepuh yang telah cukup lama menjadi juru kunci atau yang biasa disebut kuncen di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Depok.

Pria yang mengaku sudah menjaga makam itu sejak tahun 1993 mengatakan, Ratu Kiranawati atau yang biasa disebut warga setempat dengan sebutan Ratu Jaya ini, merupakan sosok wanita pemimpin atau ratu di sebuah kerajaan yang berada di bawah Kerajaan Padjajaran. Bahkan, masih kata Suyono, selain terkenal akan kecantikannya yang dapat memikat kaum adam, Kiranawati juga dikenal sangat ahli dalam masalah agama.

Makam Ratu Jaya, salah satu makam kramat yang berada di kawasan Cipayung, Depok. Konon, di makam ini hanya berisi selendang sang ratu, sedangkan jasadnya hingga kini masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan. (Noer Ardiansjah/KonDe)
“Kalau menurut cerita turun-temurun yang saya dapat, beliau adalah wanita yang sangat cantik dan juga salehah. Selain itu, beliau juga sakti mandraguna,” katanya saat ditemui di TPU Ratu Jaya, Jalan Masjid, Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Rabu (6/9).

Selain cantik dan memiliki pengetahuan yang cukup luas dari sisi agama, Ratu Kiranawati juga dikenal sebagai pendekar sakti di dunia persilatan. Ia juga dikenal cukup gigih saat bertempur melawan penjajah. Konon, masyarakat atau pengikutnya kerap menyebut Ratu Kiranawati dengan teriakan Ratu Jaya, yang artinya Ratu yang berjaya. Sebutan ini seolah menjadi api penyemangat para pengikutnya kala itu.

Sementara itu, berdasarkan Kitab Wangsa Kertanegara, Kiranawati merupakan ratu terakhir dari Kerajaan Tanjung Jaya (sekarang Tanjung Barat). Kerajaan Tanjung Jaya sendiri merupakan kerajaan di bawah Kerajaan Muara Beres yang dipimpin oleh suaminya, Prabu Surawisesa (1521-1535), keturunan Prabu Siliwangi yang merupakan Raja Padjajaran.

Namun, setelah suaminya wafat, Ratu Kiranawati memilih untuk hijrah ke arah selatan, tepatnya ke Kerajaan Tanjung Jaya sekitar Citayam. Masih menurut kepercayaan turun-temurun, Ratu Kiranawati dikenal aktif menyebarkan agama Islam bersama salah seorang ulama yang dikenal dengan sebutan Syeikh Sawangan.

“Untuk menghormati jasa-jasanya itu, akhirnya namanya diabadikan menjadi sebuah nama kelurahan di Kecamatan Cipayung, Depok. Ya, Kelurahan Ratu Jaya,” pungkas Yono. (naa)

Citayam Sejarah dan Legenda

by
Citayam merupakan sebuah area di pinggiran Kota Depok yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Area ini di masa sekarang mencakup seluruh lahan yang berada di Kecamatan Cipayung, Kota Depok. Sedangkan di masa lalu Citayam adalah sebuah kampung yang bertetangga dengan Kampung Cipayung

Dari mana nama asal Citayam belum diketahui secara pasti. Ada yang menyebut Citayam dari dua suku kata, Cit berasal dari peuncit dan Ayam berati ayam. Dalam bahasa Sunda jika digabungkan menjadi Pameuncitan Ayam yang dalam bahasa Melayu berartinya pemotongan ayam. Bahkan ada yang sekenanya menyebut, kata Citayam diambil dari nama Ci dan Ayam yang artinya adalah Sungai Ayam. emm gak jelas kayaknya bukan deh hehehehh


Berdasarkan peta ‘Tjipajoeng: herzien in de jaren 1899-1900’ yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau pada 1901, sudah disebutkan nama Citayam yang ditulis dengan Tjitajam. Menurut peta tersebut, area Citayam meliputi kampung Bojong, Pondok Terong, Rawa Geni, Ratu Jaya, Pabuaran, dan Citayam (Tjitajam) sendiri. Kemudian, Kampung Citayam dengan beberapa kampung lain yang berdekatan dibentuk menjadi sebuah desa, yang diberi nama Desa Citayam.

Kampung Citayam terletak di sisi barat Kali Pesanggrahan dan di sisi timur (masih menjadi daerah ulayat Kampung Citayam) terdapat landhuis yang menjadi lokasi rumah tuan tanah dan bangunan-bangunan untuk kegiatan usahanya. Tuan tanah ini memiliki tanah pemilikan pribadi (tanah partikelir) yang bertetangga dengan tanah-tanah partikelir yang lainnya, yaitu Landhuis Depok, Cilangkap, Sawangan, Ciseeng, dan Bojong Gede.

Dengan memperhatikan posisi tanah partikelir yang berada di hulu Kali Pesanggarahan ini, maka sebenarnya Kampung Citayam, Desa Citayam bersama dengan semua desa (kini kelurahan) yang menjadi bagian dari Kecamatan Cipayung adalah termasuk land yang kemudian disebut Landhuis Citayam. Disebut Landhuis Citayam karena landhuisnya berada di wilayah (tanah) Kampung Citayam.

Saat itu area (landhuis) Citayam merupakan wilayah yang termasuk Residentie (Provinsi) Batavia (Jakarta), Afdeeling (Kabupaten) Buitenzorg (Bogor), District (Kewedanaan) Paroeng. Sekarang area ini berada di Kecamatan Cipayung, Kota Depok. Kecamatan ini terdiri dari Kelurahan Pondok Terong, Ratu Jaya, Pondok Jaya, Cipayung, dan Cipayung Jaya.

Pada 1999 lima desa ini (yang kini telah berstatus kelurahan) dipisahkan dari Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor dan menjadi bagian Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Kemudian pada 2011 lima desa ini menjadi Kecamatan Cipayung.

Sedangkan, Desa Citayam dimekarkan dengan desa induk bernama Desa Citayam, sedangkan desa pemekaran bernama Desa Raga Jaya. Untuk Kampung Citayam, merupakan bagian dari Desa Raga Jaya, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Cukup rumit memang, karena ini tak lepas dari pemekaran Depok menjadi kota mandiri terpisah dari Kabupaten Bogor.

Sejak era kolonial, Citayam merupakan daerah penghasil karet yang tersohor. Di landhuis Citayam terdapat rumah tuan tanah dan properti lainnya, termasuk pabrik penggilingan karet. Pusat kegiatan tanah partikelir ini berada di dua lokasi. Untuk rumah pemilik atau tuan tanah lokasinya berada di sisi barat pinggir setu (danau kecil) yang disebut Setu Citayam. Sedangkan pabrik penggilingan, gudang dan tempat para pekerja lokasinya berada di sebelah barat setu (lokasi perumahan Atsiri yang sekarang).

Dalam perkembangannya, nama Citayam menjadi lebih sangat menonjol seiring dengan dibangunnya sebuah halte atau stasiun kereta api yang diberi nama Stasion Tjitajam pada 1922. Letak stasiun ini tepat berada di sisi timur setu.

Hasil-hasil perkebunan Citayam dibawa melalui jalan pos polisi dan pasar Citayam yang sekarang menuju stasiun Citayam. Kemudian dibuat alternatif melalui setu yang sekarang disebut Jalan Pos (kereta api) Citayam. Perempatan yang terbentuk karena pembuatan jalan alternatif tersebut di sekitar Setu Citayam ini kemudian sering disebut sebagai simpang (perempatan) Hek.


Bahkan nama Citayam sudah dikenal karena disebut seorang ahli Botani ternama Cornelis Gijsbert Gerrit Jan van Steenis yang dua kali mengunjungi Setu Citayam. Direktur Herbarium Kerajaan (Rijksherbarium) Leiden, Belanda (1962-1972) yang biasa disapa Profesor Kees van Steenis pertama kali datang ke Setu Citayam pada 1929, diperkirakan antara akhir Maret atau April. Sebab pada 14 Maret di sempat singgah di Depok dan melanjutkan perjalanan ke Gunung Gede, Cibodas pada 5 Mei.

Kunjungan kedua Kees van Steenis ke Setu Citayam pada 28 Agustus 1932. Dia bertugas di Kebun Raya Bogor dari 1929 hingga 1949, telah menulis dua buku bidang botani dan biografi, yaitu Flora Voor De Scholen in Indonesie (1949) dan The Mountain Flora of Java (berisi pemerian 456 spesies asli pegunungan Jawa).

Pembangunan Stasiun Citayam pada 1922 juga membuat nama daerah ini tidak asing. Kehadiran Stasiun/Halte Citayam merupakan bagian dari beroperasinya Kereta Api Batavia (Jakarta Kota)-Buitenzorg (Bogor) sejak awal 1873. Diketahui pembangunan jalur kereta antara Jakarta dan Bogor oleh NIS (Nederland Indische Spoorweg Maatschappij) dicanangkan pada 1870. Pembukaan jalur kereta pertama di Jakarta, sempat diberitakan Javabode, sebuah koran lokal saat itu, pada 15 September 1871.

Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg ini terdiri dari stasiun utama (hoofdstatsion), stasiun (stasiun kecil), halte (halte besar) dan overweg (halte kecil). Stasiun utama berada di Batavia lama (Stadhuis/NIS) dan Buitenzorg. Untuk halte dan overweg terdapat di Cileboet, Bodjong Gede, Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Lenteng Agoeng, Pasar Minggoe.

Pada hari pertama operasi keret api Batavia-Buitenzorg sudah diterapkan langsung penjadwalan tetap (Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873). Hanya ada dua jadwal keberangkatan dari Buitenzorg ke Batavia (Trein VII pukul 07.01 dan Trein XVII pukul 14.28). Sebaliknya hanya ada dua jadwal keberangkatan dari Batavia ke Buitenzorg (Trein II pukul 07,12 dari Kleine Boom dan Tein XIV pukul 15.09 dari Batavia ).

Nama Citayam pun pernah ditulis dalam sejarah perjuangan berdirinya negara Indonesia. Ketika itu pada 16 Juni 1946, Depok mendapat invasi besar-besaran dari Belanda dibantu Inggris dan sekutunya. Di Citayam, Tole Iskandar, salah satu pahlawan kemerdekaan yang namanya diabadikan pada salah satu jalan di Kota Depok, pernah terlibat pertempuran dengan pasukan Gurkha.

Tole Iskandar dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam Laskar Rakjat Depok (kelompok 21) kemudian melebur ke dalam Batalion I Depok. Tole Iskandar dan pasukannya juga terlibat pertempuran dengan pasukan Gurkha di Pabuaran dan Bojonggede.

Tole Iskandar yang lahir di Gang Kembang, Ratu Jaya, Depok, pertama kali membentuk kelompok 21 pada September 1945 di sebuah rumah di Jalan Citayam (sekarang: Jalan Kartini). Mereka hanya memiliki empat pucuk senjata peninggalan tentara Jepang untuk melawan Belanda. Tole Iskandar yang saat itu masih berusia 25 tahun dengan pangkat Letnan Dua akhirnya gugur di daerah perkebunan (Onderneming) Cikasintu, Sukabumi.

Citayam juga menyimpan legenda kepahlawanan Raden Sungging. Dia merupakan tokoh kharismatik masyarakat di sekitar Citayam dan Depok yang melawan kolonial Belanda. Dia digambarkan sebagai sosok ulama berperawakan kecil, janggut panjang, dengan sorban hijau yang selalu tampil membakar semangat rakyat untuk melakukan perlawanan.


Berdasarkan cerita turun-temurun, Raden Sungging yang berasal dari Mataram (ada yang menyebut dari Demak) memiliki karomah dan ilmu kedigjayaan tinggi. Bersenjatakan sebilah keris dia memimpin rakyat melawan penjajah sampai ke Jatinegara dan Bekasi. Namun, Raden Sungging tertangkap dan dijatuhi hukuman mati sehingga pasukannya kembali ke Citayam dan Depok.

Sebelum dieksekusi, Raden Sungging mengajukan permintaan terakhir untuk disediakan makanan, minuman, dan rokok kesukaannya. Ketika selesai menyantap semua hidangan, sebelum dieksekusi, mendadak Raden Sungging meninggal hingga semua pejabat Belanda kaget.

Pasukan Belanda menguburkan dan menjaga makam Raden Sungging selama satu pekan. Setelah sepekan, para prajurit Belanda meninggalkan makam tersebut dan timbul keanehan. Konon menurut cerita yang percaya warga sekitar secara turun-temurun, Raden Sungging bangkit dari kuburnya dan berjalan menuju Citayam.

Dia kembali memimpin rakyat dan memperingatkan penjajah Belanda tidak berbuat semena-mena terhadap rakyat. Dan menurut cerita, ancamannya kali ini ternyata membuat takut Belanda. Kejadian ini membuat gembira rakyat dan menyerukan kata-kata “Ratu Jaya..Ratu Jaya..” Sampai akhirnya Raden Sungging wafat dan dimakamkan di daerah Pondok Terong, Pancoran Mas, Depok.

Sekarang Citayam sudah menjadi daerah yang ramai penduduk dan permukiman yang padat. Seiring banyaknya pendatang dari luar daerah, pembangunan permukiman pun begitu pesat. Stasiun Citayam, setiap hari selalu dipenuhi masyarakat yang hendak bekerja ke ibu kota. Pada saat pagi dan sore hari, di sekitar Stasiun Citayam kemacetan sudah jadi pemandangan lazim. sumber sewarga.com



Komentar Tentang Mencari Rumah di Citayam

by

Komentar Tentang Mencari Rumah di Citayam
Diambil dari berbagai sumber: Klik di sini

1. mendingan cari di daerah pemda, pondok rajeg ngak macet masih segar jalannya bagus kalau citayam ngak banget deh crowded banget jalanan jelek tak terkonsep

2. bnr..bgt..gan..ditambah populalitas angkot yang merajai jalanan..pintu kereta yang setiap hari..setiap jam..bahkan hitungan detik yang ga luput dari macet…sampai sekarang blm ada penanganan oleh petugas yang terkait…

3. menurutku citayem nggak kekonsep karena daerah tersebut merupakan perbatasan dengan depok dan kabupaten bogor, jadi saling lempar tangan, dan setahuku penduduk citeyem hampir keseluruhan merupakan bekas penduduk di jakarta dipemukiman padat penduduk atau yang terkana gusur, jadi wajar kalau citeyem itu sangat padat.

4. begitu jalan tol antasari – citayam jadi daerah ini bakalan jadi daerah emas. developer kelas kakap pasti sudah ngincar. cepetan dech beli pasti untung punya. 2 tahun lagi orang bakalan tekaget-kaget dengan harga disana pasti naik pesat. selamat hunting bagi pemburu tanah !!!

5. Setuju dengan komentar2 di atas. Citayam memang masih memprihatinkan karena konsep pembangunannya belum jelas, mungkin karena letaknya di perbatasan Kab Bogor dan Kota Depok sehingga tidak begitu jelas kewenangannya. Perkembangan penduduk yang pesat tidak diimbangi penataan sehingga semrawut.

Namun, sebagaimana komentar mas Syam di atas, daerah ini sebenarnya menunggu momen untuk boom. Bila tol sudah dibangun, maka aliran orang dan barang mudah. Didukung oleh KRL yang selama ini menjadi andalan, Citayam akan menjadi simpul penting bagi mobilitas warga yang menarik kalangan investor untuk menanam modal. Banyak orang lewat dan berkumpul = banyak uang bisa didulang.

6. Hati-Hati Tanah Di Citayam Bermasalah semua RT,RW,Perangkat Desa Citayam, DaN BPPN Bekerja sama semua kongkalikong. Penipu semua. Ente tau surat yang berupa akta jual beli itu bisa di beli .hebat banget ya…padahal waktu jual beli semua pada tangan ,pas bermasalah eh gak pada ngaku, itu tanah orang di citayam di jualin semua sama aparat desa Gemblung.

7. Aku punya foto orang2 yang melakukan penipuan utk jual beli tanah di desa citayam. Jika ada yang ngalami juga, mari sama2 kita tangani

8. Hati-hati jual beli tanah di Citayam, lebih baik cek dulu di Badan Pertanahan Kab. Bogor atau Depok (tergantung wilayahnya) karena disini banyak sertifikat tanah palsu. Udah berapa ratus orang kena tipu. Jangan harap jalan tol akan dimulai dalam sepuluh tahun mendatang.

Macet Stasiun Citayam kok bisa ?

by
Citayam terkenal dengan macetnya di semua area jalan raya dekat setasiun pasti macet banget "MACET BANGET" . Stasiun citayam adalah setasiun termacet di jabodetabek kok bisa yah apa penyebabnya?. di saat sore hari kereta kurang dari lima menit kereta lewat, yang menyebabkan kendaraan berhenti. di saat itu bisa sampai 10 angkot mengetem dari pintu kereta sampai depan Stasiun Citayam dan ada pedangan pkl yang mengambil lahan untuk pejalan kaki . Macetnya bisa lebih dari 1 kilometer,
Selain kemacetan, banyak kendaraan yang terpeleset karena kondisi jalan di rel yang berlubang. Bahkan, beberapa kali angkot sampai terserempet kereta.
Penjaga perlintasan kereta Citayam, Bambang Ariono, 25 tahun, mengatakan saat pagi sampai sore lebih dari 130 kereta yang melintas. Pintu kereta, kata dia, dalam lima menit tertutup karena kereta melintas. "Kemacetan diperparah karena banyak angkot ngetem," ucapnya.

Saban hari kemacetan terjadi mulai pukul 15.00-22.00. Kendaraan bisa berderet hinggal lebih 1 KM dari perlintasan kereta. Pagi tidak terlalu macet. Tapi, sore sudah bisa dipastikan. Ditambah tidak ada polisi yang mengatur lalu lintasnya,
citayam penduduknya semakin ramai banyak rumah yang harga terjangkau di citayam menambah minat banyak orang untuk tinggal di citayam yah jadi semakin macet ajah deh di jalan raya kalo banyak orang yg tinggal di citayam, jika kalian 8tahun yang lalu pernah ke citayam suasananya masih banyak kebun jambu-singkong-blimbing, lapangan bola, tanah kosong ,empang ,rawa-rawa dan pohon bambu dari ujung sampe ujung hehehehh. tapi sekarang semua di thn2018 semua itu sudah gak ada semua sudah jadi rumah bahkan empang dan rawa sekalipun di urug jadi perumahan. pemerintah harus membenahi citayam sekarang juga !

Top Ad 728x90